aqiqah surabaya. Yang haram saja susah, apalagi cari yang halal. Begitulah ungkapan-ungkapan yang kerap terdengar dimasyarakat pada umumnya. Dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup, seringkali kita ini terlena sehingga kurang memperhatikan apakah rizki yang kita peroleh tersebut benar-benar stiril, artinya telah bersih dari ungsur-ungsur haram atau justru sebaliknya, sebagian besar haram. Karena mengingat Rosulullah SAW. telah bersabda: "Barangsiapa tidak memperdulikan dari mana ia memperoleh harta, maka Allah tidak perduli pula dari mana Dia memasukannya ke neraka" (HR. Abu Manshur Ad-Dailani). Dan dalam hadist yang lain, Rosulullah dawuh: "Siapa saja yang membeli pakaian dengan harga sepuluh dirham, satu dirham diantaranya uang haram, maka Allah tidak akan menerima sholatnya selama pakaian itu dikenakan". (HR. Ahmad) Begitu dasyatnya masalah yang ditimbulkan oleh makanan sehingga Rosul.SAW. wanti-wanti kepada umat Islam dalam sabdanya: " Ketahuilah, bahwa suapan haram jika masuk ke dalam perut salah satu dari kalian, maka amalannya tidak di diterima selama 40 hari" (HR At-Thabrani). Islam dengan tegas memerintahkan agar di dalam menyongsong rizki yang telah Allah jaminkan kepada kita, harus dengan cara yang baik dan halal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah.” (QS Al-Baqarah: 172). Dan dalam ayat lain, firman-Nya: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan, karena sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 168). Al-Hafidz Ibnu Mardawih meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas bahwa ketika dia (Ibnu Abbas) membaca ayat, berdirilah Sa’ad bin Abi Waqash kemudian berkata: “Ya Rasulullah, do’akan kepada Allah agar aku senantiasa menjadi orang yang dikabulkan do’anya oleh Allah.” Maka Rasulullah SAW. bersabda: “Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang*yang selalu dikabulkan do’anya. Dan demi jiwaku yang ada di tanganNya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal-amalnya selama 40 hari, dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba maka neraka lebih layak baginya (HR. At-Thabrani) (Lihat Ad-durar Al-Mantsur fi Tafsir bil Ma’tsur Juz: II hal. 403).
Dari hadits di atas dapat kita ambil kesimpulan:
- Perintah dari Allah agar memakan makanan yang halal.
- Makanan yang halal merupakan sebab terkabulnya do’a.
- Salah satu dampak dari memakan yang haram adalah tidak diterimanya amalan kita.
Tentang perintah untuk mencari dan memakan yang halal, Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada para Rasul, firmanNya: “Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mukminun: 51).
Maksud makan yang baik di sini adalah yang halal. Yang demikian itu diperintahkan terlebih dahulu sebelum mengerjakan amal shaleh, karena dengan memakan yang halal akan membantu untuk melaksanakan amal shaleh. Dan Allah SWT. berfirman : “Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain di antara kalian dengan cara yang batil.” (QS Al-Baqarah: 188).
Sesungguhnya manhaj Islam dalam mensikapi perihal makanan tidak berbeda dengan masalah yang lainnya, yakni dituntut untuk senantiasa menjaga akal, jiwa dan raga. Diwajibkannya makanan yang halal adalah karena bermanfaat bagi badan serta akal. Dan Allah memerintahkan kepada hamba-hambaNya agar meninggalkan makanan yang kotor dan haram karena berdampak negatif terhadap hati, akhlaq dan menghalangi hubungan dirinya dengan Allah Tabaroka Ta'ala, serta menyebabkan tidak terkabulnya do’a. Dalam hadits diceritakan: "Rasulullah menyebutkan seorang laki-laki yang menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut lagi berdebu. Orang tersebut menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo’a: “Ya Robbii .. Ya Robbii...” Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, dan baju yang dipakainya dari hasil yang haram. Maka bagaimana mungkin do’anya akan dikabulkan?” (HR. Muslim, shahih).
Hadits di atas menerangkan bahwa makanan yang haram merupakan sebab tidak terkabulnya do’a. Selain itu Rezki yang haram tidak layak disedekahkan, sebagaima hadist yang bersumber dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi SAW. bersabda: “Barangsiapa memperoleh harta dengan cara yang haram, kemudian ia shadaqahkan, maka tidak akan mendatangkan pahala, dan dosanya ditimpakan kepadanya.” (HR. Ibnu Hibban dalam Kitab Shahihnya dengan sanad hasan). Ibnu Abbas ra. berkata: “Allah tidak menerima shalat seseorang yang di dalam perutnya ada sedikit makanan haram.”
Dalam kitab shahih Al-Bukhari disebutkan, ‘Aisyah ra. menceritakan bahwa Abu Bakar mempunyai pembantu yang selalu menyediakan makanan untuknya. Suatu kali pembantu tersebut membawa makanan maka iapun memakannya. Setelah dikabarkan bahwa makanan tersebut didapatkan dengan cara yang haram, maka dengan serta merta ia masukkan jari tangannya ke Tenggoroan, kemudian ia muntahkan kembali makanan yang baru saja masuk ke dalam perutnya. Dan Abu Bakar berkata: 'Seandaian makanan haram tadi tidak keluar melainkan bersama lepasnya nyawa, niscaya akan tetap aku keluarkan'. Imam An-Nawawi ketika hidup di negeri Syam, ia tidak mau memakan buah-buahan di negeri tersebut. Tatkala orang menanyakan tentang sebabnya, maka ia menjawab: Di sana ada kebun-kebun wakaf yang telah hilang, maka saya khawatir memakan buah-buahan dari kebun tersebut.
Rasulullah telah bersabda: “Akan datang suatu zaman, sese-orang tidak akan peduli terhadap apa yang ia ambil, apakah itu halal atau haram.” (HR. Bukhari). Padahal harta yang haram itu selain berdampak tidak terkabulnya do’a dan ditolaknya amal, ia juga merupakan sebab mendapatkan adzab Allah di akhirat nanti. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa tidak bergerak dua telapak kaki anak cucu Adam di hari kiamat nanti sampai ditanya (salah satunya) tentang hartanya darimana ia dapatkan dan ke mana ia belanjakan. (untuk matan lengkapnya lihat Sunan At-Tirmidzi, hadits no.2417).
Maksud makan yang baik di sini adalah yang halal. Yang demikian itu diperintahkan terlebih dahulu sebelum mengerjakan amal shaleh, karena dengan memakan yang halal akan membantu untuk melaksanakan amal shaleh. Dan Allah SWT. berfirman : “Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain di antara kalian dengan cara yang batil.” (QS Al-Baqarah: 188).
Sesungguhnya manhaj Islam dalam mensikapi perihal makanan tidak berbeda dengan masalah yang lainnya, yakni dituntut untuk senantiasa menjaga akal, jiwa dan raga. Diwajibkannya makanan yang halal adalah karena bermanfaat bagi badan serta akal. Dan Allah memerintahkan kepada hamba-hambaNya agar meninggalkan makanan yang kotor dan haram karena berdampak negatif terhadap hati, akhlaq dan menghalangi hubungan dirinya dengan Allah Tabaroka Ta'ala, serta menyebabkan tidak terkabulnya do’a. Dalam hadits diceritakan: "Rasulullah menyebutkan seorang laki-laki yang menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut lagi berdebu. Orang tersebut menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo’a: “Ya Robbii .. Ya Robbii...” Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, dan baju yang dipakainya dari hasil yang haram. Maka bagaimana mungkin do’anya akan dikabulkan?” (HR. Muslim, shahih).
Hadits di atas menerangkan bahwa makanan yang haram merupakan sebab tidak terkabulnya do’a. Selain itu Rezki yang haram tidak layak disedekahkan, sebagaima hadist yang bersumber dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi SAW. bersabda: “Barangsiapa memperoleh harta dengan cara yang haram, kemudian ia shadaqahkan, maka tidak akan mendatangkan pahala, dan dosanya ditimpakan kepadanya.” (HR. Ibnu Hibban dalam Kitab Shahihnya dengan sanad hasan). Ibnu Abbas ra. berkata: “Allah tidak menerima shalat seseorang yang di dalam perutnya ada sedikit makanan haram.”
Dalam kitab shahih Al-Bukhari disebutkan, ‘Aisyah ra. menceritakan bahwa Abu Bakar mempunyai pembantu yang selalu menyediakan makanan untuknya. Suatu kali pembantu tersebut membawa makanan maka iapun memakannya. Setelah dikabarkan bahwa makanan tersebut didapatkan dengan cara yang haram, maka dengan serta merta ia masukkan jari tangannya ke Tenggoroan, kemudian ia muntahkan kembali makanan yang baru saja masuk ke dalam perutnya. Dan Abu Bakar berkata: 'Seandaian makanan haram tadi tidak keluar melainkan bersama lepasnya nyawa, niscaya akan tetap aku keluarkan'. Imam An-Nawawi ketika hidup di negeri Syam, ia tidak mau memakan buah-buahan di negeri tersebut. Tatkala orang menanyakan tentang sebabnya, maka ia menjawab: Di sana ada kebun-kebun wakaf yang telah hilang, maka saya khawatir memakan buah-buahan dari kebun tersebut.
Rasulullah telah bersabda: “Akan datang suatu zaman, sese-orang tidak akan peduli terhadap apa yang ia ambil, apakah itu halal atau haram.” (HR. Bukhari). Padahal harta yang haram itu selain berdampak tidak terkabulnya do’a dan ditolaknya amal, ia juga merupakan sebab mendapatkan adzab Allah di akhirat nanti. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa tidak bergerak dua telapak kaki anak cucu Adam di hari kiamat nanti sampai ditanya (salah satunya) tentang hartanya darimana ia dapatkan dan ke mana ia belanjakan. (untuk matan lengkapnya lihat Sunan At-Tirmidzi, hadits no.2417).
Maka hendaknya kita bermuhasabah, introspeksi diri. Berapa banyak do’a yang telah kita panjatkan kepada Allah, berapa banyak istighotsah digelar dalam rangka mengatasi berbagai multi dimensi yang mendera bangsa, dan berbagai bencana yang menimpa negeri ini. Namun pada kenyataannya bencana demi bencana gencar melanda, setiap kasus terbengkalai tidak teratasi dan berbagai kesulitan tak kunjung usai. Mungkinkah ini karena bangsa Indonesia sudah terbiasa dengan praktik-praktik mendapatkan harta dengan cara yang haram? Sudah terbiasa mengkon-sumsi barang-barang haram, sehingga Allah tidak mengabulkan do’a-do’a kita? Nampaknya pertanyaan-pertanyaan diatas tidak butuh jawaban,...karena telah terang dan sangat jelas.
[ 0 comments... read them below if any or add comment ]
Poskan Komentar
Markaz Menghaturkan Terimakasih, Atas Masukan Anda